Cara Islam Memandang Harta Dan Kekayaan


Imam As-Syafii rahimahullah berkata :

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ ….. فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

Jika engkau memiliki hati yang selalu qona’ah …

maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya berkunjung di kamar seorang teman saya di Universitas Madinah yang berasal dari negara Libia, dan kamar tersebut dihuni oleh tiga mahasiswa yang saling dibatasi dengan sitar (kain) sehingga membagi kamar tersebut menjadi tiga petak ruangan kecil berukuran sekitar dua kali tiga meter. Ternyata… ia sekamar dengan seorang mahasiswa yang berasal dari negeri China yang bernama Ahmad. Beberapa kali aku dapati ternyata Ahmad sering dikunjungi teman-temannya para mahasiswa yang lain yang juga berasal dari China. Rupanya mereka sering makan bersama di kamar Ahmad, sementara Ahmad tetap setia memasakkan makanan buat mereka. Akupun tertarik melihat sikap Ahmad yang penuh rendah diri melayani teman-temannya dengan wajah yang penuh senyum semerbak. Ahmad adalah seorang mahasiswa yang telah berkeluarga dan telah dianugerahi seorang anak. Akan tetapi jauhnya ia dari istri dan anaknya tidaklah menjadikan ia selalu dipenuhi kesedihan…, hal ini berbeda dengan kondisi sebagian mahasiswa yang selalu bersedih hati karena memikirkan anak dan istrinya yang jauh ia tinggalkan.

Suatu saat akupun menginap di kamar temanku tersebut, maka aku dapati ternyata Ahmad bangun sebelum sholat subuh dan melaksanakan sholat witir, entah berapa rakaat ia sholat. Tatkala ia hendak berangkat ke mesjid maka akupun menghampirinya dan bertanya kepadanya, “Wahai akhi Ahmad, aku lihat engkau senantiasa ceria dan tersenyum, ada apakah gerangan”, Maka Ahmadpun dengan serta merta berkata dengan polos, “Wahai akhi… sesungguhnya Imam As-Syafi’i pernah berkata bahwa jika hatimu penuh dengan rasa qonaa’h maka sesungguhnya engkau dan seorang raja di dunia ini sama saja”.

Aku pun tercengang… sungguh perkataan yang indah dari Imam As-Syafii… rupanya inilah rahasia kenapa Ahmad senantiasa tersenyum.

Para pembaca yang budiman Qona’ah dalam bahasa kita adalah “nerimo” dengan apa yang ada. Yaitu sifat menerima semua keputusan Allah. Jika kita senantiasa merasa nerima dengan apa yang Allah tentukan buat kita, bahkan kita senantiasa merasa cukup, maka sesungguhnya apa bedanya kita dengan raja dunia. Kepuasan yang diperoleh sang raja dengan banyaknya harta juga kita peroleh dengan harta yang sedikit akan tetapi dengan hati yang qona’ah.

Bahkan bagitu banyak raja yang kaya raya ternyata tidak menemukan kepuasan dengan harta yang berlimpah ruah… oleh karenanya sebenarnya kita katakan “Jika Anda memiliki hati yang senantiasa qona’ah maka sesungguhnya Anda lebih baik dari seorang raja di dunia”.

Kalimat qona’ah merupakan perkataan yang ringan di lisan akan tetapi mengandung makna yang begitu dalam. Sungguh Imam As-Syafi’i tatkala mengucapkan bait sya’ir diatas sungguh-sungguh dibangun di atas ilmu yang kokoh dan dalam.

Seseorang yang qona’ah dan senantiasa menerima dengan semua keputusan Allah menunjukkan bahwa ia benar-benar mengimani taqdir Allah yang merupakan salah satu dari enam rukun Iman.

Ibnu Batthool berkata

وَغِنَى النَّفْسِ هُوَ بَابُ الرِّضَا بِقَضَاءِ اللهِ تَعَالىَ وَالتَّسْلِيْم لأَمْرِهِ، عَلِمَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ للأَبْرَارِ، وَفِى قَضَائِهِ لأوْلِيَائِهِ الأَخْيَارِ

“Dan kaya jiwa (qona’ah) merupakan pintu keridhoan atas keputusan Allah dan menerima (pasrah) terhadap ketetapanNya, ia mengetahui bahwasanya apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang baik, dan pada ketetapan Allah lebih baik bagi wali-wali Allah yang baik” (Syarh shahih Al-Bukhari)

Orang yang qona’ah benar-benar telah mengumpulkan banyak amalan-amalan hati yang sangat tinggi nilainya. Ia senantiasa berhusnudzon kepada Allah, bahwasanya apa yang Allah tetapkan baginya itulah yang terbaik baginya. Ia bertawakkal kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada Allah, sedikitnya harta di tangannya tetap menjadikannya bertawakkal kepada Allah, ia lebih percaya dengan janji Allah daripada kemolekan dunia yang menyala di hadapan matanya.

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata ;

إِنَّ مِنْ ضَعْفِ يَقِيْنِكَ أَنْ تَكُوْنَ بِمَا فِي يَدِكَ أَوْثَقُ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللهِ

“Sesungguhnya di antara lemahnya imanmu engkau lebih percaya kepada harta yang ada di tanganmu dari pada apa yang ada di sisi Allah” (Jami’ul ‘Uluum wal hikam 2/147)

Orang yang qona’ah tidak terpedaya dengan harta dunia yang mengkilau, dan ia tidak hasad kepada orang-orang yang telah diberikan Allah harta yang berlimpah. Ia qona’ah… ia menerima semua keputusan dan ketetapan Allah. Bagaimana orang yang sifatnya seperti ini tidak akan bahagia..???!!!

Allah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl : 97)

Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :الحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ الْقَنَاعَةُ Kehidupan yang baik adalah qona’ah (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thobari dalam tafsirnya 17/290)

Renungkanlah bagaimana kehidupan orang yang paling bahagia yaitu Nabi kita shallallahu ‘alahi wa sallam…sebagaimana dituturkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anhaa,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ فَقُلْتُ يَا خَالَةُ مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ فَيَسْقِينَا

Aisyah berkata kepada ‘Urwah, “Wahai putra saudariku, sungguh kita dahulu melihat hilal kemudian kita melihat hilal (berikutnya) hingga tiga hilal selama dua bulan, akan tetapi sama sekali tidak dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka aku (Urwah) berkata, “Wahai bibiku, apakah makanan kalian?”, Aisyah berkata, “Kurma dan air”, hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tetangga dari kaum Anshoor, mereka memiliki onta-onta (atau kambing-kambing) betina yang mereka pinjamkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperah susunya, maka Rasulullahpun memberi susu kepada kami dari onta-onta tersebut” (HR Al-Bukhari no 2567 dan Muslim no 2972)

Dua bulan berlalu di rumah Rasulullah akan tetapi tidak ada yang bisa dimasak sama sekali di rumah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makanan beliau hanyalah kurma dan air.

Rumah beliau sangatlah sempit sekitar 3,5 kali 5 meter dan sangat sederhana. ‘Athoo’ Al-Khurosaani rahimahullah berkata : “Aku melihat rumah-rumah istri-istri Nabi terbuat dari pelepah korma, dan di pintu-pintunya ada tenunan serabut-serabut hitam. Aku menghadiri tulisan (keputusan) Al-Waliid bin Abdil Malik (khalifah tatkala itu) dibaca yang memerintahkan agar rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimasukan dalam areal mesjid Rasululullah. Maka aku tidak pernah melihat orang-orang menangis sebagaimana tangisan mereka tatkala itu (karena rumah-rumah tersebut akan dipugar dan dimasukan dalam areal mesjid-pen). Aku mendengar Sa’iid bin Al-Musayyib berkata pada hari itu,

واللهِ لَوَدِدْتُ أَنَّهُمْ تَرَكُوْهَا عَلَى حَالِهَا يَنْشَأُ نَاشِيءٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَيَقْدُمُ الْقَادِمُ مِنَ الأُفُقِ فَيَرَى مَا اكْتَفَى بِهِ رَسُوْلُ اللهِ فِي حَيَاتِهِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ مِمَّا يُزَهِّدُ النَّاسَ فِي التَّكَاثُرِ وَالتَّفَاخُرِ

“Sungguh demi Allah aku sangat berharap mereka membiarkan rumah-rumah Rasulullah sebagaimana kondisinya, agar jika muncul generasi baru dari penduduk Madinah dan jika datang orang-orang dari jauh ke kota Madinah maka mereka akan melihat bagaimana kehidupan Rasulullah. Hal ini akan menjadikan orang-orang mengurangi sikap saling berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta dan sikap saling bangga-banggaan” (At-Tobaqoot Al-Kubroo li Ibn Sa’ad 1/499)

Orang-orang mungkin mencibirkan mulut tatkala memandang seorang yang qona’ah yang berpenampilan orang miskin.., karena memang ia adalah seorang yang miskin harta. Akan tetapi sungguh kebahagiaan telah memenuhi hatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang haqiqi adalah kaya jiwa (hati)” (HR Al-Bukhari no 6446 dan Muslim no 1050)

Ibnu Battool rahimahullah berkata, “Karena banyak orang yang dilapangkan hartanya oleh Allah ternyata jiwanya miskin, ia tidak nerimo dengan apa yang Allah berikan kepadanya, maka ia senantiasa berusaha untuk mencari tambahan harta, ia tidak perduli dari mana harta tersebut, maka seakan-akan ia adalah orang yang kekurangan harta karena semangatnya dan tamaknya untuk mengumpul-ngumpul harta. Sesungguhnya hakekat kekayaan adalah kayanya jiwa, yaitu jiwa seseorang yang merasa cukup (nerimo) dengan sedikit harta dan tidak bersemangat untuk menambah-nambah hartanya, dan nafsu dalam mencari harta, maka seakan-akan ia adalah seorang yang kaya dan selalu mendapatkan harta” (Syarh Ibnu Batthool terhadap Shahih Al-Bukhari)

Abu Dzar radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya,

يَا أَبَا ذَر، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : أَفَتَرَى قِلَّةِ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قال : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?”. Aku (Abu Dzar) berkata : “Iya Rasulullah”. Rasulullah berkata : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?”, Aku (Abu Dzar ) berkata, “Benar Rasulullah”. Rasulullahpun berkata : “Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki-pen) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki-pen) adalah miskinnya hati” (HR Ibnu Hibbaan dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targiib wa At-Tarhiib no 827)

Maka orang yang qona’ah meskipun miskin namun pada hakikatnya sesungguhnya ialah orang yang kaya.

Madinah, 10 04 1432 H / 15 03 2011 M

Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc, MA

Artikel www.muslim.or.id

Cara Menjadi Hamba Alloh Yang Sejati


Penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau al-‘ubudiyyah adalah kedudukan manusia yang paling tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dalam kedudukan ini, seorang manusia benar-benar menempatkan dirinya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang penuh dengan kekurangan, kelemahan dan ketergantungan kepada Rabb-nya, serta menempatkan dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb yang maha sempurna, maha kaya, maha tinggi dan maha perkasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ}

“Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa manusia pada zatnya butuh dan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memenuhi kebutuhan mereka lahir dan batin, dalam semua arti kebutuhan dan ketergantungan, baik itu disadari oleh mereka maupun tidak. Oleh karena itu, hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beriman dan selalu mendapat limpahan taufik-Nya, mereka selalu mempersaksikan ketergantungan dan kebutuhan ini dalam semua urusan dunia maupun agama. Maka mereka selalu merendahkan diri dan memohon dengan sungguh-sungguh agar Dia Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong dan memudahkan segala urusan mereka, serta tidak menjadikan mereka bersandar kepada diri mereka sendiri meskipun hanya sekejap mata[1 Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan ini termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: “… (Ya Allah!) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata” HR an-Nasa-i (6/147) dan al-Hakim (no. 2000), dishahihkan oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (1/449, no. 227)]. Mereka inilah yang selalu mendapatkan pertolongan dan limpahan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala1.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kesempurnaan makhluk (manusia) adalah dengan merealisasikan al-‘ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Allah, dan semakin bertambah (kuat) realisasi penghambaan diri seorang hamba (kepada Allah Ta’ala) maka semakin bertambah pula kesempurnaannya (kemuliaannya) dan semakin tinggi derajatnya (di sisi Allah Ta’ala).

Dan barangsiapa yang menyangka (dengan keliru) bahwa seorang hamba bisa saja keluar dari penghambaan diri kepada Allah (tidak terkena kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala) dalam satu sisi, atau (dia menyangka) bahwa keluar dari penghambaan diri itu lebih sempurna (utama), maka dia termasuk orang yang paling bodoh bahkan paling sesat”2.

Makna dan hakikat al-‘ubudiyyah

al-‘Ubudiyyah (penghambaan diri) atau ibadah adalah sesuatu yang menghimpun rasa cinta yang utuh disertai sikap merendahkan diri yang sempurna3. Maka tidaklah dikatakan suatu perbuatan sebagai ibadah atau penghambaan diri jika tidak disertai dua hal ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ibadah atau penghambaan diri mengandung kesempurnaan dan puncak kecintaan serta kesempurnaan dan puncak (sikap) Menghinakan (merendahkan diri). Sehingga sesuatu yang dicintai tapi tidak diagungkan dan merendahkan diri kepadanya maka tidaklah (disebut sebagai) sesembahan (sesuatu yang diibadahi). Sebagaimana sesuatu yang diagungkan tapi tidak dicintai maka tidaklah (disebut sebagai) sesembahan (sesuatu yang diibadahi). Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ }

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (QS al-Baqarah: 165)”4.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak ada jalan menuju (keridhaan) Allah yang lebih dekat dari (jalan) al-‘Ubudiyyah (penghambaan diri kepada Allah Ta’ala) dan tidak ada hijab (penghalang menuju keridhaan-Nya) yang lebih tebal dari pengakuan (membanggakan dan kagum dengan diri sendiri). Penghambaan diri berporos pada dua patokan yang merupakan landasan al-‘Ubudiyyah, (yaitu) kecintaan yang utuh dan penghinaan diri yang sempurna (kepada Allah Ta’ala).

Kedua lndasan ini tumbuhnya dari dua pokok utama, yaitu mempersaksikan (besarnya) anugrah dan kurunia (dari Allah Ta’ala bagi hamba-Nya, dalam memudahkan segala kebaikan dan melindungi dari semua keburukan), yang ini akan menumbuhkan rasa cinta (kepada Allah Ta’ala), dan mempersaksikan (besarnya) kekurangan diri hamba dan ketidaksempurnaan amalnya, yang ini akan menimbulkan (sikap) merendahkan diri yang sempurna (kepada Allah Ta’ala)”5.

Imam al-Qurthubi berkata: “Barangsiapa yang (selalu) taat dan beribadah kepada Allah, menyibukkan pendengaran, penglihatan, lisan dan hatinya dengan perintah-Nya, maka dialah yang paling berhak (mendapatkan) nama al-‘Ubudiyyah (hamba Allah sejati). Dan barangsiapa yang melakukan kebalikan dari (semua) itu, maka dia termasuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ}

“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi” (QS al-A’raaf: 179)6.

Inilah kedudukan mulia yang diminta oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam doa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam: “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan kumpulkanlah aku di dalam golongan orang-orang miskin pada hari kiamat”7.

Arti “orang miskin” dalam hadits ini adalah orang yang selalu merendahkan diri, tunduk dan khusyu’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala8.

Inilah sifat yang menjadikan sempurna penghambaan diri manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan inilah yang menjadikan bertingkat-tingkatnya kedudukan dan keutamaan manusia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga seorang hamba yang kelihatannya banyak berbuat kebaikan dan amal shaleh tapi di dalam hatinya tidak terdapat hakikat penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan sebaliknya, dia bersifat sombong, bangga diri dan lupa menisbatkan taufik kebaikan yang dikerjakannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hamba ini adalah hamba yang buruk dan tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ahmad menukil dari salah seorang ulama Salaf, bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada ulama ini: Sungguh aku melaksanakan shalat lalu aku menangis (tersedu-sedu) sampai-sampai hampir (bisa) tumbuh sayuran karena (derasnya) air mataku. Maka ulama inipun berkata kepadanya: “Sungguh jika kamu tertawa tapi kamu mengakui dosa-dosamu lebih baik dari pada kamu menangis tapi kamu menyebut-nyebut (membanggakan) amalmu, karena sesungguhnya shalat orang yang menyebut-nyebut (membanggakan amalnya) tidak akan naik ke atas (tidak diterima/diridhai Allah Ta’ala)”9.

Inilah makna ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dari salah seorang ulama Salaf yang berkata: “Sungguh ada seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa (tapi) karena dosa itu dia masuk Surga, dan ada seorang hamba (lain) yang melakukan kebaikan (tapi) karena kebaikan itu dia masuk Neraka”. Orang-orang bertanya (dengan keheranan): Bagaimana (itu bisa terjadi)?

Ulama tersebut berkata: “Hamba yang berbuat dosa, lalu (setelah itu) dosa tersebut selalu ada di hadapan kedua matanya karena dia takut (dan) khawatir (dirinya akan binasa), (maka dia selalu) menangis, menyesali (perbuatan dosa itu), merasa malu kepada Allah Ta’ala, menundukkan kepala di hadapan-Nya, dan merasa hatinya remuk di hadapan-Nya. Maka dosa (yang diperbuatnya) itu lebih bermanfaat bagi hamba ini dari pada banyak amal ketaatan, karena dampak yang muncul setelah itu berupa hal-hal (sikap takut dan merendahkan diri/ penghambaan diri yang sempurna) yang dengan itulah seorang hamba (meraih) kebahagiaan dan keberuntungan (di dunia dan akhirat). Sehingga dosa yang dilakukannya (justru) menjadi sebab dia masuk Surga.

Sedangkan hamba yang melakukan kebaikan, (tapi) setelah itu dia selalu menyebut-nyebut kebaikan tersebut di hadapan Allah, merasa sombong, bangga, merasa dirinya besar dengan kebaikan tersebut dan dia berkata: aku telah melakukan banyak kebaikan. Maka kebaikan tersebut (justru) menimbulkan (sifat) sombong, bangga diri dan angkuh yang menjadi sebab kebinasaannya (karena dia tidak merendahkan dirinya di hadapan Allah), padahal Dialah yang memudahkan bagi hamba tersebut untuk melakukan kebaikan itu”10.

Orang yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan utuh dan sempurna, sehingga mereka selalu bersegera dan berungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shaleh dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersamaan dengan itu, mereka tetap menundukkan diri dan meyakini ketergantungan diri mereka kepada-Nya, dengan selalu berharap dan takut kepada-Nya.

Allah Ta’ala memuji para Nabi dan Rasul-Nya dengan sifat ini dalam firman-Nya:

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ (dalam beribadah)” (QS al-Anbiyaa’: 90).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam firman-Nya:

{تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena mereka selalu mengerjakan ibadah dan shalat ketika manusia sedang tertidur di malam hari), sedang mereka berdoa kepada Allah dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS as-Sajdah: 16).

Juga tentang sifat-sifat mulia para Shahabat radhiallahu’anhum dalam firman-Nya:

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا، سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ}

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia (para Shahabat radhiallahu’anhum) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda meraka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud” (QS al-Fath: 29).

Imam Mujahid dan beberapa ulama ahli tafsir lainnya berkata tentang makna “tanda-tanda pada wajah mereka” dalam ayat ini: “Yaitu Khusyu’ (dalam shalat) dan tawadhu’ (sikap merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)”11.

Inilah makna al-‘ubudiyyah al-khaashshah (penghambaan diri yang khusus) yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur-an, dengan mereka disebut sebagai ‘hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati’ dan digandengakan-Nya mereka dengan nama-Nya yang maha mulia, yang mana penggandengan ini mengandung arti “idha-fatu at-tasriif” (kemuliaan dan keagungan) bagi mereka12.

Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyebut Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai hamba-Nya:

{سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam) pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS al-Israa’: 1).

Juga firman-Nya:

{أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ}

“Bukankan Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam)?” (QS az-Zumar: 36).

Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah manusia yang paling sempurna dalam menunaikan penghambaan diri dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala13.

Sebagaimana sifat ini juga yang Allah jadikan sebagai kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya14 dalam firman-Nya:

{وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا. وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا}

“Dan hamba-hamba (Allah) Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri (melksanakan shalat malam) untuk Rabb mereka (Allah Ta’ala)” (QS al-Furqaan: 63-64).

Sombong dan membanggakan diri, perusak al-‘ubudiyyah

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah masuk Surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan (meskipun) seberat biji debu”. Ada yang bertanya: (Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam), sesungguhnya (setiap) orang senang memakai baju yang bagus dan alas kaki yang indah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan Dia mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran (karena congkak) dan merendahkan manusia“15.

Hadits ini menunjukkan bahwa sifat sombong dan membanggakan diri merupakan sifat yang sangat tercela, bahkan bertentangan dengan sifat al-‘ubudiyyah yang hakikatnya adalah sikap merendahkan diri dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Hakikat Islam adalah kepasrahan (dan ketundukan diri) seorang muslim (hanya) kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Karena orang yang memasrahkan diri kepada Allah dan (juga) kepada selain-Nya (maka) dia adalah seorang musyrik (berbuat syirik/menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala), sebagaimana orang yang menolak (agama) Islam (maka) dia adalah musyrik.

Inilah hakikat (agama) Islam yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam dan dalam kitab-kitab-Nya. Yaitu kepasrahan (dan ketundukan diri) seorang hamba (hanya) kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Maka orang yang memasrahkan diri kepada Allah dan (juga) kepada selain-Nya (maka) dia adalah seorang musyrik (berbuat syirik/menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala), sebagaimana orang yang menolak (agama) Islam (maka) dia adalah orang yang menyombongkan diri.

Dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (beliau bersabda) bahwa “Surga tidak akan dimasuki oleh orang yang dalam hatinya ada kesombongan (meskipun) seberat biji debu“16. Sebagaimana Neraka tidak akan dimasuki oleh orang yang dalam hatinya ada keimanan (meskipun) seberat biji debu. Maka (dalam hadits ini) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjadikan sifat sombong sebagai lawan dari keimanan, karena sesungguhnya sifat sombong itu meruntuhkan hakikat al-‘ubudiyyah (penghambaan diri seorang hamba). Sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: Allah berfirman: “Keagungan adalah sarung-Ku dan kebesaran adalah selendang-Ku, maka barangsiapa melawan-Ku (dengan merasa memiliki) salah satu dari kedua sifat itu maka Aku akan mengazabnya“17.

Maka sifat keagungan dan kebesaran termasuk sifat-sifat yang khusus (dalam) rububiyah Allah (sifat-sifat Allah, seperti menciptakan, mengatur dan menguasai alam semesta beserta isinya). Dan sifat kebesaran lebih tinggi dari sifat keagungan, oleh karena itu, sifat kebesaran dijadikan pada kedudukan selendang, sebagaimana sifat keagungan dijadikan pada kedudukan sarung18.

Oleh karena itu, seorang hamba yang selalu merendahkan diri dan mengakui kelemahan serta kekurangan dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik dan lebih mulia dari pada seorang yang selalu membanggakan dirinya meskipun amal ibadahnya terlihat banyak.

Imam Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhiir19 berkata: “Sungguh jika aku tertidur di malam hari tapi aku (bangun) di pagi hari dalam keadaan menyesali (dosa-dosaku) lebih aku sukai dari pada aku berdiri (beribadah) di malam hari tapi ketika di pagi hari aku bangga (dengan diriku sendiri)”. Imam adz-Dzahabi menukil ucapan beliau ini, lalu beliau mengomentari: “Demi Allah, tidak akan beruntung orang yang menganggap dirinya suci atau bangga dengan dirinya sendiri”20.

Penutup

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan sifat hamba-hamba-Nya yang telah menyempurnakan sifat al-‘ubudiyyah sehingga mereka meraih predikat takwa kepada-Nya:

{تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ}

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al Qashash:83).

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Jika mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini) tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, maka konsekwensinya (berarti) keinginan mereka (hanya) tertuju kepada Allah, tujuan mereka (hanya mempersiapkan bekal untuk) negeri akhirat, dan keadan mereka (sewaktu di dunia): selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah, serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh, mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allah Subhanahu wa Ta’ala)”21.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketaatan kepada-Nya yang merupakan sebab keberuntungan kita di dunia dan akhirat, aamiin.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.

Artikel Muslim.or.id

Adab Memuliakan Tamu Dalam Islam


Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)


Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Adab Bagi Tuan Rumah

1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)

3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.

4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)

5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ

“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?'” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)

6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.

7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.

8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.

9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.

10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.

11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ

“Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.

14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.

15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ

“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”

16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.

Adab Bagi Tamu

1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ

“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ

“Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
Orang yang mengundang adalah muslim.
Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.

3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:

يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)

5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ

“Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)

6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.

7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.

8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)

9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

10. Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ

“Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari)

11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ

“Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي

“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)

اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)

12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

***

Penulis: Abu Sa’id Satria Buana
Artikel www.muslim.or.id

Ini Kemuliaan Ilmu dan Ulama


Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Abud Darda’radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh …

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Abud Darda’radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh bintang-gemintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi-nabi. Sedangkan para nabi tidak mewariskan uang dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu itu niscaya dia memperoleh jatah warisan yang sangat banyak.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 22)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Zur bin Hubaisy. Dia berkata: Shofwan bin ‘Asal al-Muradi mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Aku pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menuntut ilmu.” Beliau pun menjawab, “Selamat datang, wahai penuntut ilmu. Sesungguhnya penuntut ilmu diliputi oleh para malaikat dan mereka menaunginya dengan sayap-sayap mereka. Kemudian sebagian mereka menaiki sebagian yang lain sampai ke langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap apa yang mereka lakukan.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 37)

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik. Imam Malik berkata: Aku mendengar Zaid bin Aslam -gurunya- menafsirkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Kami akan mengangkat kedudukan orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf: 76). Beliau berkata, “Yaitu dengan ilmu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/133], Umdat al-Qari [2/5], dan Fath al-Bari [1/172])

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid mengenai makna firman Allah (yang artinya), “Allah berikan hikmah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.”Mujahid menafsirkan, “Yaitu ilmu dan fikih/pemahaman.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 19)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid tentang maksud firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan ulil amri di antara kalian.” Beliau menjelaskan,“Yaitu para fuqoha’ dan ulama.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 21)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan, bahwa Abud Darda’radhiyallahu’anhu berkata, “Perumpamaan para ulama di tengah-tengah umat manusia bagaikan bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi manusia.” (lihatAkhlaq al-’Ulama, hal. 29)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbasradhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, “Seorang pengajar kebaikan dan orang yang mempelajarinya dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai ikan di dalam lautan sekalipun.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 43-44)

Petaka Lenyapnya Ilmu

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sebagian di antara tanda dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, khamr ditenggak, dan perzinaan merebak.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-’Ilm[80] dan Muslim dalam Kitab al-’Ilm [2671])

Hancurnya alam dunia ini -dengan terjadinya kiamat- akan didahului dengan hancurnya pilar-pilar penegak kemaslahatan hidup manusia yang menopang urusan dunia dan akherat mereka. Di antara pilar tersebut adalah; agama, akal, dan garis keturunan/nasab. Rusaknya agama akibat hilangnya ilmu. Rusaknya akal akibat khamr. Adapun rusaknya nasab adalah karena praktek perzinaan yang merajalela di mana-mana (lihat Fath al-Bari[1/218])

Yang dimaksud terangkatnya ilmu bukanlah dicabutnya ilmu secara langsung dari dada-dada manusia. Akan tetapi yang dimaksud adalah meninggalnya para ulama atau orang-orang yang mengemban ilmu tersebut (lihat Fath al-Bari [1/237]).

Hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin Amr al-Ash radhiyallahu’anhuma, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu itu secara tiba-tiba -dari dada manusia- akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulama. Sampai-sampai apabila tidak tersisa lagi orang alim maka orang-orang pun mengangkat pemimpin-pemimpin dari kalangan orang yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-’Ilm [100] dan Muslim dalam Kitab al-’Ilm [2673])

Di dalam riwayat Ahmad dan Thabrani dari jalan Abu Umamah radhiyallahu’anhudisebutkan bahwa ketika Hajjatul Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ambillah ilmu sebelum sebelum ia dicabut atau diangkat.” Maka ada seorang Badui yang bertanya, “Bagaimana ia diangkat?”. Maka beliau menjawab, “Ketahuilah, hilangnya ilmu adalah dengan perginya (meninggalnya) orang-orang yang mengembannya.” (lihat Fath al-Bari [1/237-238])

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apapun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu.” (lihat al-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96)

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku untuk mendakwahkannya laksana hujan deras yang membasahi bumi. Di muka bumi itu ada tanah yang baik sehingga bisa menampung air dan menumbuhkan berbagai jenis pohon dan tanam-tanaman. Adapula jenis tanah yang tandus sehingga bisa menampung air saja dan orang-orang mendapatkan manfaat darinya. Mereka mengambil air minum untuk mereka sendiri, untuk ternak, dan untuk mengairi tanaman. Hujan itu juga menimpa tanah yang licin, ia tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanam-tanaman. Demikian itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah kemudian ajaran yang kusampaikan kepadanya memberi manfaat bagi dirinya. Dia mengetahui ilmu dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mau peduli dengan agama dan tidak mau menerima hidayah Allah yang aku sampaikan.” (HR. Bukhari)

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan segi keserupaan antara hujan dengan ilmu agama. Beliau berkata, “Sebagaimana hujan akan menghidupkan tanah yang mati (gersang), demikian pula ilmu-ilmu agama akan menghidupkan hati yang mati.” (lihat Fath al-Bari [1/215]).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah subhanahu menjadikan ilmu bagi hati laksana air hujan bagi tanah. Sebagaimana tanah/bumi tidak akan hidup kecuali dengan curahan air hujan, maka demikian pula tidak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan ilmu.” (lihatal-’Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 227). Wallahu a’lam.



Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id

Perbedaan Kita Dengan Rosullulloh dan Sahabat


Bismillah, Alhamdulillah, segala pujian hanya untuk Allah subhanahu wata’ala, Rabb semesta Allah. Shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ serta kepada para shahabat radhiyallaahu ‘anhum ajma’in.

Pembaca sekalian yang semoga senantiasa mendapatkan kenikmatan dari Allah berupa iman dan petunjuk, marilah kita berkaca, dan merenungi sejenak perjalanan hidup kita, dan perjalanan kita dalam belajar Islam serta dalam beribadah kepada Allah. Sudah berapa lama kita hidup? Dan sudah berapa lama kita mengenal islam, dan sudah berapa lama kita beribadah kepada Allah? Dan sudah berkualitaskah ibadah-ibadah itu?

Dan kita mari kita bandingkan pula kualitas Islam kita dengan para shahabat Rasulullah ﷺ, Generasi yang Terbaik itu. Penulis memilih menggunakan kata “Terbaik”, karena sampai tulisan ini  dibuat, belum pernah penulis temukan generasi yang kualitasnya melebihi generasi para Shahabat ini. Tidak pernah dijumpai pada generasi sebelum Rasulullah diutus sekalipun. Sebutlah misalnya generasi terbaik Nabi Isa ‘alaihissalam, para hawariyyun. Bandingkan jumlahnya dengan dengan para shahabat Rasulullah, sangat jauh. Sebagian pendapat mengatakan hawariiyun berjumlah 12 orang. Sedangkan sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga ada 10, dan selain itu banyak pula yang keimanan, ketaqwaannya, dan pengorbanannya sangat luar biasa, meskipun mereka tidak masuk daftar jaminan surga tersebut. Merekalah generasi terbaik.

Mungkin pada masa-masa lain kita akan menjumpai orang-orang yang kualitasnya seperti para shahabat ini, namun tidak pernah kita jumpai hal ini dalam sebuah generasi. Hanya sebagian saja, bukan generasi. Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Inilah jaminan bahwasanya mereka adalah generasi yang terbaik.

Apa rahasia keberhasilan mereka menjadi generasi terbaik?

Barangkali generasi kita dan setelah kita memang tidak akan pernah mengalahkan kemuliaan generasi shahabat untuk menjadi generasi yang terbaik. Namun tentu hal ini tidak menjadi alasan kita untuk menyerah. Kita pun memiliki kesempatan untuk meniti jalan kemuliaan para shahabat ini agar kita menjadi orang-orang yang hebat sebagaimana mereka. Kita perlu mempelajari cara yang ditempuh oleh mereka, lalu kita amalkan sehingga kita bisa menjadi seperti mereka. Meskipun kita tidak bisa mengalahkan kemuliaan mereka.

Dalam kitab Ma’alim fii ath-thoriq, Imam Sayyid Qutb menuliskan setidaknya ada tiga hal yang membuat para shahabat menjadi generasi yang gemilang kemuliaannya. Ketiga hal inilah ternyata yang membedakan generasi kita saat ini, dengan generasi para shahabat mulia itu. Marilah kita simak, dan kita perbaiki kekurangan pada diri kita saat ini.

Pertama : Rujukan generasi terbaik itu hanyalah Al-Qur’an semata, bukan lainnya. Tentunya dengan penjelasannya dari Rasulullah ﷺ. Atau dengan kata lain, rujukan para shahabat hanyalah Al-Islam.

Inilah bedanya mereka dengan kita. Para shahabat sadar sepenuhnya tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang menyeluruh. Pedoman untuk menjalani kehidupan untuk semua aspek kehidupannya. Mereka mengimaninya sepenuhnya. Dan mereka mendudukannya sebagaimana tempatnya.

Al-Qur’an adalah rujukan dalam masalah keyakinan atau aqidah. Al-Qur’an adalah rujukan dalam perkara sosial, ekonomi, politik, kenegaraan, dan lain sebagainya. Sebagaimana jawaban ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika ditanya tentang akhlaq Nabi ﷺ, beliau menjawab :
“Sesungguhnya akhlaq beliau adalah Al-Qur’an” (HR Nasa’i)

Rasulullah ﷺ ketika melihat Umar ibn Khaththab sedang memegang taurat, dengan maksud untuk dipelajari, beliau berkata dengan agak marah :
“Demi Allah sekiranya Nabi Musa masih hidup bersama-sama kamu sekarang pun, tidak halal baginya melainkan mesti mengikut ajaranku.”
(Hadis riwayat Al-hafidz Abu Ya’la dari Hammad dari Asy-sya’bi dari Jabir)

Beliau menghendaki agar para shahabat terjaga dari hal-hal lain selain Al-Qur’an, bahkan dari taurat sekalipun, padahal ia adalah firman Allah kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Adapun generasi kita saat ini, memang secara umum beriman kepada Al-Qur’an, namun keyakinannya tidak sepenuhnya berdasarkan Islam. Masih banyak tercampur keyakinannya dengan kebudayaan, agama terdahulu, maupun kepercayaan nenek moyang terdahulu. Dalam beriman dan berislam pun kita masih tercampur dengan cara-cara orang terdahulu dalam mempelajari agamanya, seperti hermeneutika, filsafat, dan lainnya. Dan lain sebagainya.

Inilah bedanya kita dengan mereka, para Shahabat Rasulullah ﷺ.
Kedua : Cara generasi terbaik itu dalam menerima dakwah islam yang unik. Generasi para shahabat  itu mempelajari Al-Qur’an dengan satu tujuan saja : untuk diamalkan dalam kehidupan.

Mereka, radhiyallahu ‘anhum ajmain, mempelajari Al-Qur’an layaknya seorang prajurit yang mendapatkan perintah harian dari atasannya. Perintah itu mereka tunggu-tunggu, tidak lain tidak bukan, untuk segera dikerjakan sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah. Tidak seorang pun dari mereka belajar banyak-banyak hal serta merta, karena mereka sadar beban akan semakin banyak yang belum terlaksanakan.

Mereka, semoga Allah meridhai mereka, belajar Al-Qur’an tanpa bermaksud untuk menambah bahan bacaan semata. Tidak ada seorang pun yang belajar dengan tujuan untuk mencari hiburan atau penghapus kesedihan. Tidak ada seorang un diatara mereka yang belajar Al-Qur’an untuk menjadi bekal ilmu dan bahan akademik untuk mengisi wawasan mereka saja.

Perasaan inilah, yaitu belajar untuk mengamalkan, yang telah menambah lapangnya hidup mereka, menambah luasnya pemahaman dan pengalaman mereka terhadap Al-Qur’an. Dan ini tidak mungkin dicapai jika sekedar belajar Al-Qur’an dengan tujuan menyelidiki dan mengkaji serta membaca saja.

Dalam riwayat Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa para shahabat mencukupkan untuk belajar Al-Qur’an setiap sepuluh ayat saja. Manakala mereka sudah belajar sepuluh ayat, kemudian mempelajari makna dan tafsirnya, lalu dihafalkan, kemudian diamalkan, dan didakwahkan kepada orang lain. Baru kemudian menambah lagi dengan sepuluh ayat berikutnya. Subhanallah, tidak heran mereka menjadi generasi terbaik. Inilah rahasinya.

Allah subhahanu wata’ala berfirman :

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً
Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (17:106)

Al-Qur’an yang dipelajari dengan tujuan untuk diamalkan, lalu bekerja pada diri mereka. Al-Qur’an merasuk menjadi darah, daging dan perilaku mereka. Al-Qur’an meresap, menjadi panduan dalam gerakan mereka, lalu menjadi pelajaran-pelajaran yang menggerakkan perbuatan kesehariannya. Al-Qur’an tidak hanya menjadi sekedar teori yang dihafal dalam kepala dan tertulis dalam kitab saja. Al-Qur’an menjadi lahir dalam bentuk nyata, menjadi cara pandang, dan melahirkan peristiwa-peristiwa yang mengubah arah kehidupan mereka.

Inilah bedanya dengan kita saat ini, amat sedikit diantara kita yang belajar dengan tujuan untuk diamalkan. Sebagian kita saat ini bahkan sering kali mendapati bahwa : saya sudah tahu hal itu, ataupun hal ini, ini hanya mengulang saja. Namun ternyata ilmu yang ia telah ketahui belum diamalkan sepenuhnya.

Banyak diantara kita tahu keutamaan dan hukum shalat berjama’ah, namun masih enggan melakukannya. Banyak diantara kita tahu wajibnya berdakwah, menyeru kepada Allah. Namun banyak pula yang enggan melakukannya. Adapula yang sudah melakukannya namun enggan bermujahadah pada jalan dakwah tersebut. Dan banyak pula dalam hal-hal lainnya. Pada intinya, ilmu yang telah banyak kita pelajari, tidak sebanding dengan amal perbuatan yang mestinya terlaksana.

Yang ketiga : Para shahabat begitu menerima Al-Qur’an dan diamalkan, lalu mereka meninggalkan selain darinya. Segala sesuatu selain Al-Qur’an akan dipandang dengan tatapan penuh kewaspadaan, dan kecurigaan. Baik itu berupa ajaran nenek moyang, adat istiadat masyarakat, pemahaman populer pada masyarakat maupun lainnya.

Para sahabat benar-benar menyadari bahwa Islam adalah agama yang menjadi jalan hidup yang menyeluruh, meliputi seluruh aspek kehidupan. Sehingga tidak perlu dan jangan sampai hal-hal selain dari Al-Qur’an dan selain dari syariat ini, ikut masuk dan mencampurinya.

Mereka menyadari bahwa ketika mereka masuk Islam, mengucapkan syahadatnya, hal ini berarti mereka memasuki kehidupan yang sama sekali baru. Kehidupan baru yang harusnya terpisah jauh-jauh dari kehidupan jahiliyahnya yang dulu. Mereka menganggap kehidupannya yang lama adalah kehidupan yang buruk, kotor, dan tidak sesuai dengan ajaran agamanya yang baru itu.

Mereka memiliki perasaan bahwa mereka ini terpisah dengan kehidupan jahiliyahnya yang dulu. Sehingga mereka terpisah dengan kehidupan masyarakat jahiliyahnya yang dulu. Seolah-olah hijrah  dari kehidupan lama dan meninggalkannya semuanya.

Inilah bedanya kita dengan shahabat. Mereka merasa Islam saja yang diperlukan, yang lain tidak perlu mencampurinya. Adapun kita saat ini, sebagian kita berislam dengan setengah-setengah. Dan setengahnya terisi dengan selainnya. Baik berupa adat istiadat, pandangan masyarakat, ilmu-ilmu barat, dan sebagainya.

Kita beragama Islam namun tidak menerapkan pendidikan islam pada pendidikan kita. Begitupun dalam bidang perekonomian kita, ketatanegaraan kita, sosial kita dan lainnya. Islam terkucilkan pada sudut-sudut masjid dan terjadwalkan pada bulan ramadhan saja.

Inilah bedanya kita dengan mereka. Dapatkah kita menjadi seperti mereka, para shahabat radhiyallahu ajma’in?

 sumber belajarislam.com

Kenikmatan Dibalik Sujud Saat Shalat


Suatu hari salah seorang sahabat yang merupakan ahlus shuffah, Abu Firas radhiyallahu ‘anhu, bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama asli Abu Firas adalah Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami. Bermalam (mabit) bersama Rasulullah adalah kesempatan bagi para sahabat untuk menikmati shalat malam yang panjang nan khusyu’ di belakang sang qudwah shallallhu ‘alaihi wa sallam. Sebelum shalat, Abu Firas membawakan wadhu’ (air wudhu’ beserta tempatnya) dan beberapa perlengkapan untuk beliau. Melihat kebaikan Abu Firas seperti ini, tidak lantas Rasulullah diam saja. Beliau bukan sekedar berterima kasih dengan kata-kata, bahkan beliau persilahkan Abu Firas untuk meminta sesuatu. “Salni…”, kata Rasulullah. “Mintalah sesuatu kepadaku..”. Permintaan apa saja. Dan sebagaimana kita tahu Rasulullah tidak pernah mengatakan “tidak”, selama beliau sanggup penuhi permintaan tersebut.

Abu Firas radhiyallahu ‘anhu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ini adalah kesempatan emas. Mungkin tak akan terulang kembali seumur hidup. Pernah ada salah seorang sahabat yang meminta pakaian baru kepada Rasulullah, hadiah istimewa dari salah seorang shahabiyyah. Pakaian tersebut waktu itu sedang beliau kenakan. Mendengar permitaan seperti itu, Rasullah pun masuk rumah, melipat, dan kemudian beliau berikan. Rupanya sahabat tadi ingin ber-tabarruk dengan menjadikan pakaian tersebut sebagai kain kafan. Pernah juga ada salah seorang Arab Badui yang meminta kambing sepenuh lembah yang ada di antara dua gunung. Rasulullah pun berikan. Abu Firas faham akan hal ini, Rasulullah tidak pernah menolak ketika dimintai sesuatu.

Abu Firas pun berfikir, permintan jenis apa yang kira-kira beliau sanggupi, dan bermanfaat hingga kelak di akhirat. Abu Firas memikirkan akhirat. Abu Firas tidak ingin meminta pakaian. Tidak pula kambing. Jangankan kambing, ratusan unta pun pernah Rasululllah berikan kepada Shafwan bin Umayyah putra dedengkot musyrikin Umayyah bin Khalaf, pasca perang Hunain. Abu Firas meminta satu hal yang teristimewa, untuk kelak di surga.

“As’aluka muraafaqataka fil jannah”. Aku ingin membersamaimu nanti di surga wahai Rasulullah. Pinta Abu Firas.

“Ada yang lain?”, tanya Rasulullah.
“Huwa dzaaka, hanya itu wahai Rasulullah”, jawab Abu Firas.
“Kalau begitu..”, kata Rasulullah menjawab permintaan istimewa dari Abu Firas ini,”..bantulah aku dengan memperbanyak sujud.”
Subhaanallah. Permintaan istimewa dari orang-orang istimewa, kepada manusia paling istimewa, harus dicapai dengan cara yang istimewa pula.
Sujud, Rasulullah sebut secara khusus. Rasulullah tidak menyebut kata shalat, tapi mengkhususkan kata sujud. Sebegitu istimewakah sujud itu?
Sujud adalah kondisi ketika manusia sedang merendah di hadapan Rabb-nya. Terbuat dari tanah, sedang menyungkur bersama anggota badannya di atas tanah. Bersama kepala, tangan, dan kaki, dan tentu saja bersama hati. Satu irama. Saat inilah seharusnya seorang hamba benar-benar merasa rendah di hadapan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Merasa kerdil. Merasa hina di hadapan Dzat Yang Maha Mulia.
Ibadah akan sempurna jika di saat yang sama terkumpul dua hal, seorang hamba merendahkan diri serendah-rendahnya, dan di saat yang sama mengagungkanNya setinggi-tingginya.
Sujud adalah saat dimana seorang hamba berada dalam kondisi paling dsekat dengan Allah. Sebagaimana Rasulullah katakan:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد

“Kondisi saat seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud.” (HR Muslim)
“Sujud adalah..”, kata Ibnul Qayyim ketika menjelaskan rahasia di balik ibadah shalat, “..’ubudiyyah yang paling penting dalam shalat, dan yang paling krusial dibandingkan rukun-rukun yang lainnya. Oleh karena itu, sujud dijadikan sebagai penutup. Sedangkan rukuk dan ritual-ritual yang lain sebelumnya, diumpamakan sebagai pembuka dan pelengkap.”
Inilah salah satu hikmah, mengapa Rasulullah perintahkan kita agar bersungguh sungguh memanjatkan do’a saat bersujud. Sujud, identik dengan thawaf dalam ibadah haji. Thawaf juga kondisi ketika seorang hamba sedang berada pada kondisi sangat dekat dengan Allah dan disunnahkan memperbanyak do’a. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah atsar dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Saat itu ada yang hendak melamar putrinya ketika beliau sedang thawaf. Beliau diam saja hingga selesai thawaf, kemudian beliau katakana:

أتذكر أمرا من أمور الدنيا ونحن نتراءى الله في طوافنا

“Tidak pantas aku mengingat urusan dunia sementara kita melihat Allah dalam thawaf kita”
Terkait ibadah yang bernama sujud ini, Syaikhul Islam menjelaskan bahwa yang bisa bersujud bukan hanya fisik saja. Bukan sekedar anggota badan. Hati juga bisa bersujud. Bagaimana jika hati telah bersujud? Beliau katakan dalam Majmu’ Fatawa: “Demi Allah, ia adalah sebentuk sujud yang tidak akan pernah berhenti dan mengangkat kepalanya hingga ia bertemu dengan Allah ta’ala.”
Allahumma a’innaa ‘ala dzikrika wsyukrika, wahusni ‘ibaadatika.

sumber : http://belajarislam.com/

Menyambut Ramadhan dengan Gempita

“Barang siapa bahagia dengan kedatangan Ramadhan, diharamkan jasadnya masuk neraka.” (Rasulullah SAW)
Ramadhan tinggal menunggu hari. Jika tidak ada perbedaan Insya’ Allah awal Ramadhan akan dimulai pada 9 Juli 2013 mendatang. Tidak ada salahnya, mulai saat ini kita mempersiapkan diri dengan berbagai persiapan guna menyuksesan ibadah kita di bulan Ramadlan.
Berbicara bulan Ramadhan tentu pikiran kita mengarah pada puasa. Ibadah ini disinyalir dalam Al-Quran sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dan tidak dapat ditinggalkan kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. Dalam ungkapan lain ibadah puasa adalah ritual yang dimasukan dalam satu rangkaian kegiatan yang ada di bulan Ramadhan.
Urgensitas Puasa
Puasa yang kita laksanakan setiap bulan Ramadhan adalah manifestasi keimanan kita kepada Allah. Puasa tanpa didasari oleh iman dan didahului oleh tujuan (niat), hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Ia hanya menahan nafsu (makan dan minum) tanpa tujuan yang jelas.
Puasa adalah Rukun Islam ketiga, artinya puasa harus didahului dengan syahadat kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian dilanjutkan dengan shalat, baru kemudian melakukan ibadah puasa. Maka dari itu, kita harus memahami seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya serta makna shalat, sebelum melakukan ibadah puasa. Jadi puasa tidak berdiri sendiri. Ia merupakan kesatuan dari keseluruhan Rukun Islam.
Tujuan puasa yang sebenarnya adalah untuk menahan diri. Menahan diri dalam arti yang sangat luas. Menahan diri dari belenggu nafsu duniawi berlebihan yang tidak terkendali, atau nafsu batiniah yang tidak seimbang. Di mana kesemuanya itu, apabila tidak diletakan pada porsi yang benar akan mengakibatkan suatu ketidakseimbangan hidup yang akan berujung pada kegagalan.
Dalam buku bertajuk Emotional Spiritual Quotient (ESQ), karangan Ary Ginanjar Agustian dijelaskan bahwa dorongan (nafsu) fisik maupun batin secara berlebihan akan menghasilkan sebuah rantai belenggu yang akan menutup asset yang paling berharga dari seorang manusia, yaitu “God-Spot”.God-Spot adalah kejernihan hati dan fikiran manusia yang merupakan sumber-sumber suara hati yang selalu memberikan bimbingan dan informasi-informasi maha penting untuk keberhasilan dan kemajuan seseorang.
Lebih lanjut Ary Ginanjar menjelaskan bahwa God-Spot yang tertutup oleh nafsu fisik dan batin yang tidak seimbang akan mengakibatkan seseorang menjadi buta emosi. Artinya, ia akan menjadi seseorang yang tidak peka dan tidak mampu membaca kondisi batiniah dirinya dan juga lingkungannya secara obyektif. Hal ini terjadi karena radar hatinya telah tertutup oleh nafsu, sehingga ia tidak lagi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, karena menurutnya kebenaran adalah apabila ia mengikuti nafsu pribadi.
Selain itu puasa juga bertujuan sebagai pengendalian diri untuk menjaga fitrah berfikir agar selalu memiliki kejernihan hati, sekaligus sebagai bentuk pelatihan diri dari Allah agar manusia dapat menghamba kepada-Nya secara totalitas. Artinya, ketika dalam keadaan lapar dan dahaga manusia tetap memiliki hasrat untuk taat kepada Allah SWT. Inilah bentuk pelatihan dahsyat dan sempurna yang metodenya langsung diberikan oleh Allah SWT.
Puasa adalah pelatihan untuk menjaga fitrah manusia sehingga ia tetap memiliki kesadaran diri dan akan menghasilkan sebuah akhlak terpuji (akhlakul karimah). Namun masalahnya, masih banyak umat islam yang belum menyadari pentingnya makna puasa yang sebenarnya. Mereka hanya menghentikan makan dan minum tanpa mempelajari apa makna dan tujuan besar yang tersimpan di balik ibadah puasa.
Apabila seseorang sudah memahami makna hidup yang sesungguhnya, yaitu menjalankan misi Tuhan, dan telah mendalami tujuan hidup berdasarkan Al-Qur’an, maka ia akan menyadari bahwa salah satu tujuan puasa adalah pembebasan diri dari belenggu, untuk menjaga dan memelihara fitrah dalam rangka memakmurkan bumi di jalan Allah SWT.
Untuk mencapai tujuan itu banyak hal yang perlu dipersiapkan. Yakni mempersiapkan diri secara lahiriah maupun batiniah. Persiapan lahiriah berarti persiapan untuk tetap menjaga kesehatan fisik. Jangan sampai ketika Ramadhan datang kondisi kesehatan kita melemah. Sedangkan persiapan batiniah adalah persiapan mental agar mental kita tetap sehat. Yakni mental yang selalu siap dalam menjalankan semua ritualitas bulan Ramadhan dengan penuh semangat dan totalitas.
Persiapan itu penting. Ibarat orang bepergian jauh tentu butuh bekal. Jika tujuan kita jauh tentu bekal yang harus kita butuhkan juga berjumlah besar, agar tidak kehabisan di tengah jalan, dan sampai tujuan dengan selamat. Begitu juga dengan puasa, jika kita mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, maka tujuan utama puasa yakni menjadi orang yang bertaqwa akan tercapai. Untuk itu mari kita sambut Ramadhan dengan gempita, seperti sabda Rasulullah di awal tulisan ini, barang siapa yang bahagia dengan kedatangan Ramadhan, diharamkan jasadnya masuk neraka! Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang muttaqin. Amiin. nu online

Kompensasi Kasih Ibu: Muhammad Menikahi Nenek Uzur

 anak yang dimasa kecilnya kekurangan kasih ibu akan cenderung suka dengan perempuan yang lebih dewasa, atau lebih tua. Artikel berikut mengandung pesan bahwa tindakan Muhammad yang mengawini perempuan tua bangka membuktikan masa kecilnya yang kurang bahagia. Muhammad kehilangan kasih sayang ibunya. 




PERTANYAAN DR ALIREZA ASSAR:

Yth Dr. Sina,
Ok, Dr. Sina, anggaplah pendiri Islam, Muhammad itu memang seorang penipu, bandit, om girang … dsb. Tapi saya tetapi bisa membuktikan pada anda bahwa ia adalah pribadi yang paling hebat dalam sejarah umat manusia. Saya akan membahas ini secara bertahap. Pertama-tama, ia pasti pandai dan ganteng sehingga bisa mencantol wanita yang paling kaya dan berpengaruh pada jaman itu. Khadijah, jatuh cinta padanya, menikahinya dan memberikan semua kekayaannya kpd Muhamad untuk mengembangkan ideologinya. Setelah meninggalnya Khadijah, banyak wanita cantik mencoba menarik perhatiannya tetapi tidak berhasil. Aisyah adalah salah satu yg berhasil. Nah, jelaslah bahwa Muhamad memang sukses dgn wanita, kualitas yg jarang dimiliki kebanyakan lelaki intelek ! OK. Langkah kedua: anggaplah ia penipu. Tetapi pastilah ia penipu yg sangat jitu bukan ? Kebanyakan orang membohong tetapi tidak ada yg percaya. Apakah tidak aneh bahwa seorang lelaki di bagian terpencil dunia berhasil menipu orang selama 1400 tahun dan 1.5 milyar masih mempercayai tipuannya itu ? Bahkan di jaman sekarangpun, banyak politisi mencoba membohongi rakyat tapi tidak berhasil. Nah, lagi2 anda lihat bahwa Muhamad memang luar biasa.
Salam,
Dr. A.R. Assar


JAWABAN A SINA
Yth Dr. Assar.

1) Muhamad orang hebat ?

Anda mengatakan Muhamad adalah penipu, bandit dan om girang dsb, tetapi anda TETAP menganggapnya sbg “pribadi yg paling hebat dlm sejarah umat manusia.” Ini sangat kontradiktif. Bgm seorang penipu, bandit dan om girang bisa menjadi pribadi yg paling hebat dlm sejarah umat manusia ? Apa yg anda maksudkan dgn pribadi hebat ? Apakah Hitler juga pribadi hebat ? Bgm dgn Genghis Khan, Napoleon, Stalin, Mao Ze Dong, Khomeini dan Saddam Hussein ? Bukankah mereka juga pribadi-pribadi hebat ? Ingat bahwa orang2 biadab itu juga mengalami kemenangan di medan perang dan dicintai berjuta2 orang. Semua tokoh di atas itu berhasil menciptakan kultus-individu atas diri mereka sendiri dan rakyat tidak henti-hentinya mengelu-elukan mereka. Definisi anda bagi “manusia hebat” memang sangat rancu. Saya TIDAK menganggap orang yg membunuh orang lain sbg orang hebat.

Mari kita menganalisa surat anda point by point.

2) Perkawinan Khadijah-Muhamad

Argumen anda adalah bahwa Khadijah, wanita kaya dan berpengaruh jatuh cinta pada Muhamad dan menghabiskan kekayaannya bagi kemajuan agama karangan Muhamad. Buku kedua saya adalah sebuah biografi Muhamad dan kesehatan psikologisnya. Dlm buku ini saya menganalisa secara mendetil hubungan Muhamad dgn Khadijah. Ini cuplikan dari buku saya itu: Khadijah adalah puteri favorit ayahnya, Khuwaylid. Malah Khuwaylid sering lebih tergantung kpdnya, ketimbang kpd putera2nya. Khadijah memang “kesayangan papi”. Ia menolak lamaran lelaki2 berkuasa di Mekah. Tetapi ketika ia melihat Muhamad, ia langsung jatuh cinta dan mengirim orang utk menyampaikan surat lamarannya.
Sekilas memang nampak bahwa kepribadian Muhamad begitu magnetik sampai menaklukkan hati seorang wanita canggih. TAPI bacalah lagi biografinya.

Tabari menulis: “Khadijah mengirimkan pesan kpd Muhamad, mengundangnya utk melamarnya. Ia memanggil ayahnya kerumahnya, memabukkannya dgn anggur, melumurinya dgn parfum dan mendandaninya dgn mantel mahal dan memotong kerbau. Lalu Khadijah memanggil Muhamad dan paman2nya. Ketika mereka masuk, ayahnya langsung mengawinkan mereka. Ketika sang ayah sadar ia mengatakan, “Untuk apa daging, parfum dan baju ini ?” Khadijah menjawab, “Kau telah menikahi saya kpd Muhamad bin Abdullah”. “Saya tidak melakukannya,” kata sang ayah. “Mengapa saya akan melakukannya jika lamaran para lelaki paling berkuasa di Mekah-pun tidak saya setujui, apalagi memberikanmu kpd lelaki picisan ini ?” [Tabari versi Persia Vol. 3 hal.832]

Kelompok Muhamad keberatan dan menjawab bahwa perkawinan ini disiasati oleh puterinya sendiri. Orang tua itu dgn marah menarik pedangnya; saudara2 Muhamad juga menarik pedang mereka. Khadijah menengahi dan menyatakan cintanya pada Muhamad dan mengakui bahwa ia memang merencanakan semuanya ini. Ayahnya kemudian berdiam tatkala sadar bahwa ini semua diluar tangannya dan rekonsiliasipun terjadi.

Jadi bagaimana menjelaskan kelakuan Khadijah yg jatuh cinta pada lelaki yg 15 tahun lebih muda darinya? Kelakuan serabutan ini menunjukkan ketidakberesan dalam kepribadian Khadijah. Apakah ia benar2 jatuh cinta dalam hanya satu jam pertemuan? Atau hanya suka/naksir (infatuation)?

Penulis dan kolumnis Ann Landers (1918-2002) menjelaskan perbedaannya: “Infatuation is instant desire. Perasaan suka hanyalah bentuk nafsu menggebu-gebu. Cinta adalah persahabatan yg baru menghangat setelah beberapa lama. Cinta mengakar dan tumbuh, pelan2 setiap hari. Infatuation ditandai oleh ketidakpastian (insecurity). Orang yg sedang kepincut rasa suka akan mengatakan, ‘Kita harus menikah sekarang juga ! Saya tidak mau kehilangan kau !’ Ini memang memiliki elemen nafsu seksual".

Bukti menunjukkan bahwa ayah Khadijah seorang pemabuk. Utk melancarkan perkawinannya, Khadijah memanfaatkan kelemahan ayahnya. Hanya seorang pemabuk dapat kehilangan kesadaran. Anak2 orang2 pemabuk sering memiliki keadaan psikologis yg dinamakan codependency. Nampak juga bahwa ayah Khadijah terlalu protektif terhdp puteri kesayangannya itu. Khuwaylid memiliki anak2 lain tetapi Khadijah adalah buah hatinya. Mungkin karena ia satu2nya anak yg berhasil. Orang dgn kepribadian codependency ini, sering tumbuh dlm bayang2 orang tua yg dominan dan menyanjung mereka. Mereka menjadi obyek obsesi orang tua mereka. Di mata mereka, fungsi mereka hanyalah agar menampakkan orang tua mereka baik dimata orang luar. Mereka diharapkan menjadi seorang 'wunderkind’.

Akibat bertubi-tubinya tuntutan akan kemampuan maksimalnya, sang anak tidak mampu mengembangkan kepribadiannya sendiri. Ia tidak merasa dicintai karena SIAPA ia tetapi karena APA yg berhasil dilakukannya. Belum lagi dgn adanya seorang ayah pemabuk yang sering membebankan sampah emosionalnya pada anak2nya yg dianggap paling berpotensial, sbg kompensasi atas kegagalan dan kekurangan sang ayah.

Para penderita codependent tidak mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan dari teman-teman yg sehat secara emosional. Itulah mengapa Khadijah menolak lamaran lelaki2 yg sukses dan matang. Orang yg cocok bagi seorang codependent adalah seorang narsisis (seseorang yg cinta diri sendiri) yg sendirinya juga memiliki kebutuhan yg tidak terpenuhi. Seorang codependent sering membingungkan rasa cinta dengan rasa kasihan, mereka bertendensi utk “mencintai” orang yg bisa mereka kasihani dan bisa mereka selamatkan.

Nama lain bagi codependency adalah "self effacing" atau "inverted narcissist/narsisis terbalik”. Inilah yg dikatakan Dr. Sam Vaknin, penulis Malignant Self Love (Cinta Diri yg Merusak) ttg hubungan antara seorang codependent dan seorang narsisis:
“Sang inverted narcissist hanya mampu MERASAKAN sesuatu saat ia berada dlm hubungan dgn narsisis lain. Sang inverted narcissist diprogram dari permulaan utk menjadi pasangan sempurna sang narcissist – guna saling mengipas Ego mereka, yg satu menjadi ekstensi kepribadian yg lain, hanya utk mendapatkan pujaan dan pengelu-eluan.” Secara sosial dan dlm hal bisnis, sang inverted narcissist sering orang sukses tetapi hubungan mereka sering tidak sehat. Khadijah sudah menikah dua kali dan memiliki 3 anak. Tidak ada sesuatupun yg tercatat ttg para mantan suaminya. Ia hanya digambarkan sbg janda. Apakah kedua atau salah satu suaminya mati atau apakah kedua perkawinannya gagal ? Memang ini tidak lagi penting. Yg penting sekarang adalah hubungannya dgn Muhamad dan peran pentingnya dlm menjadikan Islam sbg agama.

(Dlm buku saya, saya memberikan lebih banyak bukti ttg keadaan mental codependency Khadijah)
Memang pasangan Muhamad-Khadijah cocok sekali ! Muhamad seorang narsisis yg haus akan pujaan dan perhatian. Ia miskin, yatim piatu dan memiliki kebutuhan emosional tinggi. Ia memerlukan seseorang utk mengemong dan memenuhi kebutuhannya, seseorang yg bisa dimanfaatkan dan dikasarinya spt caranya anak2 memanfaatkan dan meneror orang tua. Kematangan emosional sang narsisis dibekukan saat masa kecilnya. Kebutuhan kanak2nya tidak pernah dipenuhi. Ia terus mencoba memuaskan kepentingan ke-kanak2annya. Semua bayi memang narsisis dan ini memang tahap penting dalam pertumbuhan mereka. Tetapi jika narsisisme ini tidak dipuaskan semasa kanak2, kematangan emosional mereka akan dibekukan pada tahap itu. Mereka mencari perhatian yg tidak mereka dapatkan pada masa kecil mereka dlm hubungan mereka saat dewasa nanti.

Ibn Sa'd mengutip Muhamad sbg mengatakan bahwa semua keluarga suku Quraish memiliki hubungan darah dgnnya dan oleh karena itu Allah dlm Quran 42:23 memerintahkan mereka utk mencintainya, walaupun mereka tidak suka pesan yg ia bawa. [Tabaqat Vol.1 hal.3] Tidak sulit utk mendengar jeritan haus akan cinta kasih dan perhatian, seorang lelaki yg disepelekan semasa kecilnya.

Muhamad adalah orang yg sangat memiliki kebutuhan emosional. Khadijah, dilain pihak, merupakan seorang inverted narcissist yg memerlukan obyek perhatian selain memenuhi fantasinya di ranjang. Seorang codependent tidak peduli jika ia dimanfaatkan orang lain, karena ia memang menginginkannya (Contoh bagus: lihatlah hubungan antara Pangeran Charles and Camilla Parker-Bowles).

Vaknin menjelaskan: “Sang inverted narcissist menggantungkan diri pada sang narcissist utama dan ini memang merupakan suplai narcissistik-nya. Jadi kedua tipe ini menjadi dua orang yg saling mendukung dan membentuk sebuah sistim simbiosis. Kenyataannya namun demikian adalah, baik sang narsisist maupun sang inverted narcissist sadar akan dinamika hubungan mereka dan apa yg menjadikan hubungan mereka sukses dan awet.”

Bridget Murray dlm "Mixing oil and Water/Mencampur minyak dan air" mengatakan : "Psikolog sering melihat pola khas dlm pasangan macam ini: keduanya memiliki kepribadian tidak beres (personality disorder). 'Mereka nampak memiliki “fatal attraction” dimana pola kepribadian mereka saling bertentangan tapi saling mengisi— dan jika mereka cerai, mereka akan tertarik pada pasangan yg mirip mantan pasangan mereka,' kata Kaslow."

Hubungan simbiotik antara narcissist Muhammad dan inverted narcissist Khadijah memang sempurna.
Muhamad tidak lagi harus bekerja setelah menikahi Khadijah yg kaya raya. Ia menghabiskan waktunya dlm goa2 dan mondar-mandir sambil menikmati fantasinya dimana ia adalah orang yg paling disayangi & paling dipuja diatas permukaan bumi ini. Khadijah begitu sibuk dgn suaminya yg narcissist ini, memuaskan kebutuhannya, sampai melupakan urusan dagangnya. Bisnisnya kemudian menurun dan kekayaannya menyusut drastis. Dari Muhamad ia mendapatkan 7 anak. Yg paling muda adalah Fatimah, saat Khadijah berusia lebih dari 50 thn. Ia menjaga ke-10 anaknya seorang diri. Suaminya tidak pernah dirumah, tapi lebih sering menyendiri di gua2 mentalnya. Pada saat Khadijah meninggal, kekayaannya habis dan Muhamad melarikan diri ke Medinah. Ia begitu miskin sampai menggantungkan diri atas sumbangan buah kurma dari kaum Yahudi dan pengikutnya dari Medinah.
Vaknin mengatakan:
"Hanya dgn pengorbanan dirinya, pasangannya bisa sukses. Ia mengorbankan keinginannya, harapannya, mimpinya, kebutuhan seksual, psikologis & materialnya, pokoknya semuanya yg bisa mengundang kemarahan sang Dewa Narsistik- sang tokoh utama. Sang narcissist bahkan semakin nampak superior dgn pengorbanan pasangannya ini. Semakin hebat sang narcissist, semakin mudah pengorbanan pasangannya, dan akhirnya sang pasangan itu akhirnya hanya sekedar sbg buntut/appendix sang Narcissist. Sang pasangan ini kemudian membaur dgn sang narcissist sampai pada titik tidak berarti dan bahkan tidak lagi dapat mengingat diri sendiri."

Sang narcissist sering menuntut pengorbanan dari pasangan co-dependent-nya. Dan pasangannya yg mabuk cinta itu dgn senang hati mengikuti segala perintahnya.
Contoh :
John de Ruiter dari Alberta, Canada, adalah orang yg menyatakan diri sbg Sang Juru Selamat, The Messiah. Dan pengikutnya yang bodoh mengiyakannya. Joyce, isterinya yg cerai darinya setelah 18 tahun perkawinan mengatakan, ia memang sangat mencintai suaminya. Tetapi dalam tahun terakhir perkawinan mereka, John lebih suka menghabiskan waktu dgn kedua adik perempuan Joyce yg cantik. Saat sang isteri mengajukan keberatan, pertama2 sang suami membantahnya. Tetapi affair2nya itu kemudian segera menjadi rahasia umum. Buru2 John menegaskan cintanya kpd isterinya dan bahwa selingkuhnya dgn 2 wanita cantik itu bukan karena nafsu. Ini pepatahnya bagi pengikutnya; “Hidup dalam suatu kode atau struktur moral menghancurkan cinta kasih.” Narcissists memang sering hidup DILUAR kode moral manapun. Ego mereka terlalu besar utk tunduk pada moralitas atau aturan. Bodohnya, Joyce juga tidak meninggalkannya, sampai suatu hari suaminya datang dgn berita dahsyat. "Kami sedang duduk di dapur sambil mengisap rokok," kata Joyce, "Ia berbicara tentang ‘kematian’ saya. Ia mengakui bahwa saya telah melalui banyak kematian, hal yg bagus, menurutnya. Saya harus melepaskan 99% dari hidup saya. Tetapi ia tidak akan membiarkan saya ‘mati’ begitu saja. Katanya, kematian saya yg paling dahsyat adalah jika ia diijinkan mengambil 2 isteri lagi." Joyce mengatakan dia menyangka suaminya cuma melucu. Ternyata tidak ! Ia mengangkat masalah ini utk kedua kalinya dan meminta Joyce apakah ia merasa 3 isteri bisa hidup dalam rumah yang sama. Ini kemudian membuka mata Joyce. Untungnya Joyce belum pada tahap co-dependent berat, shg ia tidak sudi menerima penghinaan ini. Seorang co-dependent asli akan melakukan apapun utk menyenangkan pasangan narcissist-nya. Hubungan antara co-dependent dan pasangan narcissist-nya adalah : sadomasochisme. Joyce tidak tahan lagi akan penghinaan dan pelecehan ini dan meninggalkan suaminya yg sakit jiwa ini.
Sedihnya bagi umat manusia, KHADIJAH MEMANG CO-DEPENDENT ASLI, yang sudi mengorbankan apapun bagi narcissist tercintanya. Untung bagi Khadijah, Muhamad masih menghormatinya sehingga selama Khadijah masih hidup, Muhamad enggan mengambil isteri lain. Jangan lupa bahwa Khadijah yg memegang keuangan keluarga. Muhamad sendiri tidak memiliki satu sen-pun, shg sulit baginya utk membawa isteri muda kerumah Khadijah. Lagipula, mayoritas penduduk Mekah menjadikannya bahan olok-olokan. Ia dicap GILA ! Tidak seorangpun mau mengawininya, bahkan sekaya apapun dia. Di Mekah, pengikutnya berjumlah kurang dari 80 orang dan kebanyakan adalah budak. Kalau Khadijah tetap hidup menyaksikan meningkatnya kekuasaan suaminya, kemungkinan besar ia harus menelan penghinaan dimadu.
Dinamika antara pasangan narcissist dan co-dependent adalah komplex, merusak/abusive tetapi saling memuaskan. Keduanya orang2 yg memiliki kebutuhan besar dan hanya pasangannya-lah yg dapat memenuhi keinginannya.
Ini mengikat keduanya kedalam simbiosis memuakkan tapi awet. Kalau hubungan simbiosis ini putus, misalnya oleh kmatian salah satu pasangan, yg lainnya tidak dapat membentuk hubuhngan syg sama dgn orang lain, kecuali ia menemukan pasangan yg sama sakitnya. Ini alasan mengapa setelah kematian Khadijah, Muhamad menjadi gila wanita dan menciptakan harem dgn sebanyak mungkin wanita yg mampu didapatkannya. Ia mencoba mencari kompensasi atas kehilangan “sugar mommy”-nya dgn sex. Ia tgerus menerus menambahkan koleksi wanita tetapi tidak ada seorangpun yg bisa memenuhi kebutuhan tidak normalnya itu. Ia memerlukan perlindungan dan cinta kasih. Ia, walaupun sudah berusia lanjut, tetap merindukan sosok ibu, sesuatu yg tidak dapat diberikan anak2 ingusan macam Aisya.
Belum ada seorangpun yg menganalisa hubungan Muhammad-Khadijah secara kritis macam ini. Dalam buku saya “From Mecca to 9/11” saya menunjukkan profil psikologis Muhammad dan hubungannya dgn mereka yg dekat dgnnya. Kami hanya bisa mengerti fenomena Muhammad, jika kita dapat mengerti psikologinya dan hubungannya dng ibunya, orang tua angkatnya, kakeknya, pamannya dan isterinya.

3) AISYAH

Nah Sdr Alireza:
Anda juga mengatakan: “Setelah Khadijah meninggal, banyak wanita cantik lainnya mencoba merebut hatinya tetapi tidak berhasil, dan hanya Aisha yg berhasil.” Maksud anda apa ? Bahwa seorang anak ingusan berumur ENAM TAHUN JATUH CINTA PADA LELAKI BERUMUR 51 TAHUN ?? Bahwa Aisyah-lah yg mencoba merebut hatinya ? Dimana logika anda ? Pernyataan anda ini bahkan tidak dapat diterima kalau anda seorang Muslimn yg tidak berpendidikan. Tapi anda ini mengaku sbg ilmuwan nuklir. Jadi mana logika anda ? Bagaimana hal konyol ini bisa keluar dari mulut seorang professor macam anda ? Terlepas dari logika rancu anda, sejarahpun membuktikan bahwa anda SALAH ! Bukan Aisha yg berusia 6 tahun ini yg jatuh cinta pada Muhamad, orang yg cocok menjadi kakeknya. Malah terbalik ! Saya sudah mengutip hadis2 ttg subyek ini dalam artikel saya yg didedikasi kpd Aisha. Tetapi biarlah saya mengulangi hadis yg mengatakan bahwa Muhamad sering berfantasi ttg anak kecil bernama Aisha.
Sahih Bukhari 9.140
Diriwayahkan 'Aisyah:
Rasulullah mengatakan kpd saya, "Kau ditunjukkan kepada saya dua kali (dalam mimpi saya) sebelum saya mengawinimu. Saya melihat malaikat menggendongmu dalam kain sutera, dan saya mengatakan kpd nya, 'Bukalah ia,' dan lihatlah, ternyata nampaklah kau. 'Kalau ini dari Allah, maka ini harus terjadi.'

Lalu kau ditunjukkan kepada saya, malaikat mengangkatmu dalam kain sutera dan saya mengatakan …. idem-diulang lagi … kalau ini memang dari Allah, maka ini harus terjadi.' "

Hadis berikutnya menunjukkan bahwa Muhamad-lah yg mendatangi ayah Aisyah, Abu Bakr, dan melamar Aisyah.
Sahih Bukhari 7.18
Diriwayahkan 'Ursa:
Nabi meminta Abu Bakr utk meminang 'Aisha. Abu Bakr mengatakan "Tetapi saya saudaramu." Nabi mengatakan, "Kau saudara saya dalam agama Allah dan KitabNya, tetapi ia (Aisha) sah bagi saya utk dikawini."
Abu Bakr yg bodoh ini tadinya kaget dan mencoba membantah tetapi tidak dapat menolak kemauan si pedofil Muhamad. Ia hanya berhasil membuat Muhammad menunggu 3 tahun, menunggu pertumbuhan Aisha.

4)Dalam point kedua anda anda menulis: “Katakahlah ia seorang penipu ; OK, tetapi ia pastinya seorang penipu yg sangat jitu !!”

BETUL ! Muhamad memang penipu jitu. Ia penipu psikopat. Ini jelas berbeda dgn cara saya dan anda berbohong. Kami tidak dapat berbohong macam cara psikopat dan meyakinkan orang akan kebohongan kami. Saya tidak dapat membohongi keponakan saya yg berumur 5 tahun ttg dimana saya menyembunyikan permennya.
Saya tidak dapat menahan geli kalau saya berbohong. Namun seorang psikopat adalah yang pertama yg percaya kebohongannya sendiri. Ini sudah saya bahas panjang lebar dalam artikel lain. Saya tidak akan mengulanginya lagi dan mengundang anda utk membacanya.
Judulnya : The Secret of Muhamad's Success/Rahasia Sukses Muhamad
Faithfreedom IndonesiaKembali Ke Atas